Perjalanan Metode Nada & Dakwah

Pasca runtuhnya kerajaan Majapahit, mayoritas masyarakat di pulau jawa menganut agama hindu, budha, animisme, dinamisme, dan aliran-aliran kebatinan. Ketika dakwah islam mulai dikumandangkan oleh "pasukan jihad" Walisongo, dalam sekejap jutaan orang berduyun-duyun untuk mengikrarkan kalimat syahadat. Lantas apa rahasia dibalik kesuksesan syi'ar islam yang dilakukan Walisongo?

Ternyata keberhasilan dakwah yang dilakukan oleh Walisongo terletak pada metode dan cara penyampaian dakwah yang mudah diterima oleh masyarakat jawa pada waktu itu. Sesuatu yang digemari masyarakat seperti musik dan seni-seni kebudayaan yang lainnya, dijadikan sebagai media tambahan untuk memperlancar misi dakwahnya.

Sebagai contoh Sunan Kalijaga, salah satu anggota tim Walisongo. Ia mengenalkan agama yang rohmatan lil alamin ini dengan menggunakan media seni sastra, wayang, dan musik. Dalam setiap dakwahnya, Sunan Kalijaga memakai iringan gamelan dan gending-gending jawa. Hal ini bertujuan untuk memudahkannya dalam melakukan pendekatan komunikasi pada masyarakat dan juga berfungsi untuk mengumpulkan massa pada tempat dimana ia berdakwah. Bisa di lapangan, pasar, pesisir pantai, bisa pula di kawasan-kawasan perjudian dan pelacuran. Ketika orang-orang telah berkumpul, dimulailah dakwah sembari diselingi dengan kidung-kidung yang syairnya mengajak pada islam dan kebaikan. Hasilnya? setiap "pertunjukan dakwah" selesai, sebagian besar penontonnya mendapat curahan hidayah dari-Nya.

Berdasarkan "pengalaman" dari Sunan Kalijaga, bisa disimpulkan bahwa seni musik sangat ampuh dijadikan sebagai media tambahan dalam berdakwah. Karena musik adalah sesuatu yang sangat digemari oleh kebanyakan orang. Melakukan pendekatan pada seseorang melalui sesuatu yang disukainya, adalah langkah bijak dan mujarab dalam melaksanakan dakwah. Sejauh tidak menyimpang dari tujuan inti dakwah itu sendiri.

Kini jaman telah berubah modern, peradaban manusia mengalami perkembangan, dan alat musik yang digunakan Sunan Kalijaga telah menjadi benda kuno. Tapi apakah musik juga ikut-ikutan menjadi kuno? Ternyata tidak! Justru pada saat ini musik mengalami kemajuan yang sangat luar biasa dan menjadi kegemaran 90% orang yang mendiami bumi ini. Musik telah berkembang, agama juga telah berkembang, namun maksiat jauh lebih berkembang.

Kalau pada jaman kuno kerusakan remajanya hanya sebatas main perempuan, minum arak, dan berjudi. Tapi sekarang, sangat banyak model-model kemaksiatan yang bisa dikerjakan oleh para remaja. Mulai dari buka gambar porno di internet, pakai sabu, pesta seks di pasar ayam, judi adu ikan cupang, hingga sampai tawuran antar sekolah antar propinsi.


Melihat realita kerusakan moral di jaman sekarang. Sepertinya metode dakwah ala Sunan Kalijaga bisa digunakan sebagai alternatif oleh para mubaligh dalam perjuangannya memperbaiki aqidah dan akhlaq masyarakat. Manusia memang tidak mempunyai kuasa untuk mendatangkan cahaya hidayah pada seseorang. Namun berdakwah dan saling mengingatkan diantara sesama adalah suatu kewajiban hidup yang harus dilakukan oleh setiap manusia.

Mungkin alasan seperti itulah yang saat ini mendorong sebagian mubaligh untuk menggunakan metode "nada dan dakwah" dalam syi'ar-syi'arnya. Beberapa diantaranya adalah KH.Ma'ruf Islamudin, seorang kyai pimpinan Pon.Pes Salafiyah Walisongo Sragen, Jawa Tengah. Dalam ceramahnya KH.Ma'ruf Islamudin kerap memasukkan unsur seni musik dan nyanyian dengan lagu-lagu sholawat dan campursari yang telah digubah liriknya. Dengan diiringi oleh grup rebana Walisongo, penampilan dakwah dari Kyai Sragen ini sangat digemari oleh masyarakat. Hal ini dapat dibuktikan dengan jam terbang dakwahnya yang cukup padat serta hasil penjualan kaset dan VCD pengajiannya yang laris manis di pasaran.

Di kota asal Sunan Kalijaga sendiri yaitu Demak, ada Ki Joko Goro-Goro. Dalam dakwahnya mubaligh yang satu ini kerap menggunakan wayang sebagai accecoris dakwahnya, persis seperti apa yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Metode dakwahnya ini sangat digemari oleh masyarakat.

Para Mubaligh muda pun seolah tak ingin ketinggalan dalam mewarnai gaya dakwahnya. Di Madiun muncul nama Ustdzh.Nova Kharisma Yogi Ananda atau lebih dikenal dengan "Mbak Kharisma". Daiah muda yang satu ini memiliki suara emas dan sangat lihai didalam mengolah cengkok-cengkok suara saat mendendangkan lagu-lagu dakwahnya.

Di Wonosobo, Jawa Tengah muncul Muhammad Angin Bawono (Dai Angin). Namanya melejit ketika berhasil menjadi finalis Dai TPI wakil kota Yogyakarta, dimana pada saat itu masyarakat lebih mengenalnya dengan nama "Ustad Tri Kodok". Dalam dakwahnya dai dari "kota gunung" ini sering diiringi oleh grup nasyid An Nabil. Melalui kreatifitas dalam mengolah syair, Dai Angin mampu menyulap lagu-lagu dari band yang tengah nge-trend menjadi lagu dakwah yang sangat apik. Kontan metode dakwahnya ini cukup menyedot perhatian masyarakat khususnya kaum remaja dan pelajar. Namun sayangnya hingga saat ini Dai Angin belum meluncurkan satu pun kaset atau VCD tausiahnya. Ketika dikonfirmasi mengenai hal ini, Dai berumur 23 tahun ini menjawab "ntar mbak, ada saatnya". Belakangan diketahui "Dai Gaul Jawa" ini juga sibuk membina sebuah majelis taklim remaja di Samarinda, Kalimantan Timur.

Kiprah dari mubaligh-mubaligh berjiwa seni diatas cukup memberikan bukti. Bahwa syi'ar islam yang dilakukan dengan metode "nada dan dakwah" sangat efektif dan mudah diterima oleh berbagai lapisan masyarakat. Seperti pada jamannya Sunan Kalijaga!(copy teks artikel from yuniar)